Sabtu, 06 November 2021

Jadi Bagian Wartawan Istana, Bayu Putra Bocorkan Tantangan Yang Harus Dihadapi


(Workshop Jurnalistik: Proses Jurnalis dalam Mewawancarai Menteri Luar Negeri)

PulpenAlfa.com, Surabaya - Bayu Putra, Asisten Redaktur Jawa Pos berbagi pengalaman menjadi wartawan istana dalam Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Kamis (28/10/2021).

Dalam ceritanya, Bayu Putra mengatakan bahwa prinsip liputan di Istana Presiden memiliki kesamaan dengan liputan di Polsek, Pemkot, dan Pemkab, yakni bertugas memberi pertanyaan dan mengklarifikasi suatu hal. Hal yang membedakan hanya jenis narasumbernya, namun hal tersebut membawa konsekuensi tambahan yang cukup banyak.

Meskipun demikian, untuk dapat melakukan liputan di istana tidaklah mudah, terdapat banyak syarat dan beberapa kekhususan dasar yang harus dipatuhi, seperti Protokoler, ID Pers, Outfit, dan Perilaku. Dalam hal berbusana contohnya, terdapat aturan-aturan yang mengharuskan jurnalis istana untuk berpakaian rapi, bukan hanya rapi yang enak dipandang, namun juga menjunjung kesopanan dan berkaitan dengan representasi mereka. Jurnalis istana dilarang keras untuk memakai celana jeans, T-shirt dan kaos. Mereka juga dilarang untuk memakai sandal, slop maupun sepatu sandal sebagai alas kaki mereka. Jadi mereka harus memakai sepatu atau tidak ada izin untuk masuk sama sekali.

Bukan hanya mempermasalahkan busana, ada hal penting dan khusus yang harus dimiliki jurnalis istana yang membedakan mereka dengan jurnalis lainnya, yakni ID Pers. Untuk menjadi jurnalis istana, jurnalis harus memiliki ID Pers khusus semacam tiket yang dapat membawa mereka untuk masuk dan meliput kehidupan di istana.

“Istana itu lingkungannya Kepala Negara, jadi ada berbagai protokoler yang memang harus dipatuhi oleh siapapun, termasuk Kepala Negara sendiri. Untuk ID Pers itu memang ada yang dibuat khusus untuk wartawan di istana, dan wartawan yang meliput harus berpengalaman, minimal empat tahun sebagai syaratnya. Jadi tidak semua wartawan yang bermodalkan ID Pers bisa melakukan liputan di Istana,” ujar Bayu Putra.

Bayu Putra membocorkan, selain kekhususan yang harus dipatuhi sebelum melaksanakan liputan di istana, terdapat juga banyak tantangan yang harus di lalui jurnalis istana dalam mengemban tugasnya. Seperti yang diketahui, bahwa istana adalah muara dari segala isu, rumahnya semua bidang permasalahan bertemu untuk dibahas, dikupas tuntas sampai menemukan titik terang. Inilah salah-satu tantangannya, jurnalis istana harus dapat menyesuaikan diri, harus cepat tanggap semua bidang yang menjadi urusan Negara.

“Istana itu muaranya semua isu. Semua bidang diurusi oleh Negara, mulai dari olahraga, politik, kesejahteraan rakyat, sosial ekonomi, dan lain sebagainya itu muaranya di istana. Semuanya dilaporkan di istana, ke Presiden untuk dibahas di rapat-rapat kabinet. Untuk itu, kami yang meliput di istana harus dapat menyesuaikan diri, kita harus cepat paham semua bidang yang menjadi urusan Negara. Dan itu harus didapat dalam waktu singkat,” jelasnya.

Menjadi jurnalis istana harus memiliki mental baja dan fisik yang kuat, seperti yang dipaparkan oleh Bayu Putra dalam Workshop Jurnalistik kamis lalu, bahwa jurnalis istana kerap kali mendapat narasumber yang tak terduga sehingga memaksa mereka untuk cepat tanggap dalam memahami topik yang akan dibahas dalam waktu yang singkat. Sabar menunggu dinamika yang berlangsung, berlarian untuk dapat meliput agenda mendadak, serta harus mempertahankan posisinya dalam wawancara doorstop merupakan segelintir tantangan yang harus mereka hadapi dalam menjalankan tugasnya.

 

Alfa Chumaidah – B71219057


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DISERBU UNTUK MENU BERBUKA, STREET FOOD DI GRESIK DIJADIKAN PELUANG USAHA

Street Food  di Gresik, Jawa Timur beralih fungsi sebagai pasar ramadhan.  Sumber: Alfa Chumaidah   Gresik -  Kawasan kaki lima atau istil...