Gresik - Kawasan kaki lima atau istilah
kerennya street food populer dengan para pedagang yang menjajakan
dagangannya secara terang-terangan, menjual jajanan siap santap dan dimasak
pada saat itu juga bukanlah hal asing yang dapat kita lihat di tepian jalan.
Apalagi saat bulan ramadhan seperti saat ini.
Bulan ramadhan seakan menjadi
berkah bagi masyarakat setempat, peluang usaha untuk membuat takjil dan
menjajakannya di jalanan seakan memberikan peluang bagi masyarakat untuk
memperoleh keuntungan. Seperti di daerah Gresik, Jawa Timur banyak pejual
musiman yang memenuhi area street food dan menggelar jajanannya di sana.
Salah satunya Bu Lukha (40) pedagang takjil dadakan yang menjajakan berbagai
gorengan, jajanan pasar, kolak, hingga menu buka puasa khas Gresik, seperti
nagasari, bongko kopyor, bongko cublek, bonggolan, dan masih banyak lagi. “Saya
sudah berjualan takjil sejak lama, 5 tahun ada kalo ndak salah. Dulunya
yang ngemper di sini cuma beberapa orang, jus-jus buah belum ada.” ujar Bu
Lukha, penjual takjil di Street Food Gresik, Rabu (13/04/2022).
Sembari menunggu adanya pembeli, Bu Lukha mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berjualan di luar waktu bulan puasa. Dia mulai menggelar dagangannya pada pukul 14.30 WIB hingga jajanannya habis terjual. “Biasanya disini rame pas jam-jam 3 sampai adzan maghrib, Mbak. Kadang ada orang kena macet minggir dulu, beli es campur sama gorengan buat buka puasa. Yang paling laris ya gorengan sama bongko kopyor ini.” tambahnya.
Bu Lukha mengatakan, bahwa ide
berjualan takjil ini merupakan warisan dari orang tuanya. Beliau hanya menjual,
jajanan yang beliau bawa adalah titipan dari para tetangga di desanya. “Ya
alhamdulillah, Mbak. Banyak sedikit disyukuri ae. Saya ini bawa titipan
tetangga, bukan punya saya semua ini. Yo ndak bisa saya buat jajan akeh
werno ngeten, Mbak. Saya cuma jual es-es niki, gorengan saya yang
buat, kalo kolak, bongko, nagasari saya ambil dari orang. Alhamdulillah
per-hari keuntungan ada 300.000 sampai 500.000 ribuan.” jawabnya dengan
sumringah.
Street food yang alih fungsi sebagai pasar
takjil dadakan ini memang terlihat ramai, berbagai gerobak memenuhi sepanjang trotoar,
suara saut-sautan penjual dan pembeli seakan menambah meriah pasar ramadhan di
sini. Diwawancara di hari yang sama, Mbak Rida (36) pegawai kantor kecamatan juga mengatakan kalau di daerah
ini memang sudah ramai meskipun bukan bulan ramadhan, selain terletak di
pinggir jalan besar, street food di daerah Gresik ini juga dekat dengan
kantor kecamatan, gedung olahraga, alun-alun, pasar dan menjadi pintu masuk
antar desa. Tak heran jika street food ini banyak di lirik pembeli,
terlebih di bulan ramadhan.
“Disini kalau hari biasa malahan
ramenya lama, bisa sampai tengah malam. Biasanya ada anak-anak ngemper sambil
beli jus, wedang atau gorengan Bu Tini. Wes rame banget, sore-sore
gerobak sudah buka, kadang juga jadi pasar dadakan kalau pasar mingguan masih
lama.” jelasnya.
Mbak Rida juga menyampaikan jika masalah
kemacetan akibat penjual yang membeludak di bulan puasa adalah hal biasa,
pengguna jalan mungkin akan menggerutu apalagi jika ada mobil tangki yang
keluar-masuk menambah sesak jalanan, namun mereka akan tetap berjualan kembali meskipun
ada razia yang berujung penggusuran. “Sudah biasa, Mbak. Trotoar juga dialih
fungsikan, beberapa kali digusur Satpol PP juga besoknya dagang lagi.” ujarnya
sambil terkekeh.


