Sabtu, 13 November 2021

Bak Limbah Jadi Berkah, Olahan Petis Kepala Udang Siap Jadi Gudang Pendapatan


(Proses Perebusan Petis)

Gresik – Terletak di pesisir utara kota Gresik membuat masyarakatnya tak asing lagi memakai hasil perikanan sebagai mata pencaharian. Entah itu alami dari lautan maupun budi daya dari pertambakan. Begitu pula dengan masyarakat Desa Sungonlegowo, Kecamatan Bungah, Gresik yang kebanyakan berprofesi sebagai petani tambak atau pengupas udang.

Setiap hari tentu saja bukan sekilo-dua kilo udang yang akan dikupas untuk dijual ke pabrik atau restoran, namun berton-ton udang untuk setiap harinya. Lantas bagaimana dengan limbah kulit dan kepala udangnya? Apakah limbah itu dibuang begitu saja dan menimbulkan bau busuk di sekitaran? Tentu saja tidak, masyarakat yang pintar akan mengolah limbah tersebut menjadi olahan makanan yang bernilai jual, sehingga dapat menjadi gudang pendapatannya, seperti petis udang contohnya.

Petis udang adalah bahan olahan masakan Indonesia yang dibuat menyerupai saus hitam namun sangat kental dan manis, biasanya digunakan sebagai bahan sampingan atau penyedap rasa dalam mengolah makanan tradisional Jawa Timur, seperti Lontong balap, Rujak, Kupang Lontong, Tahu Campur, Tahu Tek, dan masih banyak lagi . Olahan ini dibuat dari limbah kulit dan kepala udang yang telah melewati penyaringan dan pengolahan yang panjang.

Laisatin, salah satu pengusaha petis di Desa Sungonlegowo mengatakan, jika proses pembuatan petis udang membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk satu Kuali besar atau tiga belas kilo petis. Untuk mendapatkan petis dengan kualitas yang premium juga memerlukan usaha keras serta kesabaran dalam menunggu api dan mengaduknya hingga mengental.

“Membuat petis itu berat pol, Mbak. Sampean harus menggiling kepala dan kulit udang dulu. Kalo sudah, lanjut disaring sari-sarinya lalu direbus. Nah, merebusnya ini perlu waktu lama. Sampean harus sabar nunggu, pastiin apinya normal, kalau kayunya padam tambahin. Belum lagi ngaduknya yang makin lama makin alot. Kira-kira ngadon-nya ini dua harian lah, Mbak,” tutur Laisatin, pengusaha petis Desa Sungonlegowo, Jumat (12/11/2021).

Proses pembuatan petis udang memang bukan hal yang mudah seperti yang dikatakan Laisatin. Kita harus melalui tahapan yang panjang dan menguras keringat, setelah mengental pun hasilnya tak banyak, untuk satu kuali besar seperti itu biasanya hanya cukup memenuhi satu ember hitam yang dibandrol sekitar Rp.350.000.00. Biasanya olahan petis ini akan dijual ke orang yang menjadi langganan dengan jumlah besar, untuk petis yang dijual di toko-toko akan dikemas dengan mangkuk plastik kecil dan dibandrol dengan harga Rp.10.000-an.

“Satu wajan besar biasanya muat tiga belas kiloan lah, Mbak. Nah, tiga belas kilo ini biasanya muat di satu ember hitam ini. Saya jualnya 1 kg nya Rp.25000, sampean bisa kalikan saja. Petis saya biasanya diambil Juragan-nya mbak, itu rutin. Biasanya sebulan sekali diambil, kadang kalau laris bisa dua kali juga sebulan. Petis saya juga dititipkan di toko-toko, yang ditaro di gelas plastik ini, saya jualnya Rp.10.000-an,” jelasnya.

Desa Sungonlegowo memang dikenal dengan olahan hasil perikanannya. Bukan hanya petis udang yang biasanya dijual ke luaran desa bahkan ke luar kota, namun juga olahan lainnya, seperti Kerupuk Udang, Kerupuk Lemi dari Udang, Panggang Bandeng, Sapitan Bandeng, dan masih banyak lagi. Olahan petis udang Desa Sungonlegowo merupakan salah satu olahan yang sangat banyak diminati oleh masyarakat, biasanya olahan ini diperjual-belikan di toko-toko oleh-oleh, banyak juga pesanan yang datang dari luar kota dengan jumlah besar. Pantas saja jika petis olahan desa Sungonlegowo diberi julukan petis udang super oleh banyak orang.

Alfa Chumaidah-B71219057 

 

 

 

 

Sabtu, 06 November 2021

Jadi Bagian Wartawan Istana, Bayu Putra Bocorkan Tantangan Yang Harus Dihadapi


(Workshop Jurnalistik: Proses Jurnalis dalam Mewawancarai Menteri Luar Negeri)

PulpenAlfa.com, Surabaya - Bayu Putra, Asisten Redaktur Jawa Pos berbagi pengalaman menjadi wartawan istana dalam Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Kamis (28/10/2021).

Dalam ceritanya, Bayu Putra mengatakan bahwa prinsip liputan di Istana Presiden memiliki kesamaan dengan liputan di Polsek, Pemkot, dan Pemkab, yakni bertugas memberi pertanyaan dan mengklarifikasi suatu hal. Hal yang membedakan hanya jenis narasumbernya, namun hal tersebut membawa konsekuensi tambahan yang cukup banyak.

Meskipun demikian, untuk dapat melakukan liputan di istana tidaklah mudah, terdapat banyak syarat dan beberapa kekhususan dasar yang harus dipatuhi, seperti Protokoler, ID Pers, Outfit, dan Perilaku. Dalam hal berbusana contohnya, terdapat aturan-aturan yang mengharuskan jurnalis istana untuk berpakaian rapi, bukan hanya rapi yang enak dipandang, namun juga menjunjung kesopanan dan berkaitan dengan representasi mereka. Jurnalis istana dilarang keras untuk memakai celana jeans, T-shirt dan kaos. Mereka juga dilarang untuk memakai sandal, slop maupun sepatu sandal sebagai alas kaki mereka. Jadi mereka harus memakai sepatu atau tidak ada izin untuk masuk sama sekali.

Bukan hanya mempermasalahkan busana, ada hal penting dan khusus yang harus dimiliki jurnalis istana yang membedakan mereka dengan jurnalis lainnya, yakni ID Pers. Untuk menjadi jurnalis istana, jurnalis harus memiliki ID Pers khusus semacam tiket yang dapat membawa mereka untuk masuk dan meliput kehidupan di istana.

“Istana itu lingkungannya Kepala Negara, jadi ada berbagai protokoler yang memang harus dipatuhi oleh siapapun, termasuk Kepala Negara sendiri. Untuk ID Pers itu memang ada yang dibuat khusus untuk wartawan di istana, dan wartawan yang meliput harus berpengalaman, minimal empat tahun sebagai syaratnya. Jadi tidak semua wartawan yang bermodalkan ID Pers bisa melakukan liputan di Istana,” ujar Bayu Putra.

Bayu Putra membocorkan, selain kekhususan yang harus dipatuhi sebelum melaksanakan liputan di istana, terdapat juga banyak tantangan yang harus di lalui jurnalis istana dalam mengemban tugasnya. Seperti yang diketahui, bahwa istana adalah muara dari segala isu, rumahnya semua bidang permasalahan bertemu untuk dibahas, dikupas tuntas sampai menemukan titik terang. Inilah salah-satu tantangannya, jurnalis istana harus dapat menyesuaikan diri, harus cepat tanggap semua bidang yang menjadi urusan Negara.

“Istana itu muaranya semua isu. Semua bidang diurusi oleh Negara, mulai dari olahraga, politik, kesejahteraan rakyat, sosial ekonomi, dan lain sebagainya itu muaranya di istana. Semuanya dilaporkan di istana, ke Presiden untuk dibahas di rapat-rapat kabinet. Untuk itu, kami yang meliput di istana harus dapat menyesuaikan diri, kita harus cepat paham semua bidang yang menjadi urusan Negara. Dan itu harus didapat dalam waktu singkat,” jelasnya.

Menjadi jurnalis istana harus memiliki mental baja dan fisik yang kuat, seperti yang dipaparkan oleh Bayu Putra dalam Workshop Jurnalistik kamis lalu, bahwa jurnalis istana kerap kali mendapat narasumber yang tak terduga sehingga memaksa mereka untuk cepat tanggap dalam memahami topik yang akan dibahas dalam waktu yang singkat. Sabar menunggu dinamika yang berlangsung, berlarian untuk dapat meliput agenda mendadak, serta harus mempertahankan posisinya dalam wawancara doorstop merupakan segelintir tantangan yang harus mereka hadapi dalam menjalankan tugasnya.

 

Alfa Chumaidah – B71219057


DISERBU UNTUK MENU BERBUKA, STREET FOOD DI GRESIK DIJADIKAN PELUANG USAHA

Street Food  di Gresik, Jawa Timur beralih fungsi sebagai pasar ramadhan.  Sumber: Alfa Chumaidah   Gresik -  Kawasan kaki lima atau istil...