(Proses Perebusan Petis)
Gresik – Terletak di pesisir utara kota
Gresik membuat masyarakatnya tak asing lagi memakai hasil perikanan sebagai
mata pencaharian. Entah itu alami dari lautan maupun budi daya dari pertambakan.
Begitu pula dengan masyarakat Desa Sungonlegowo, Kecamatan Bungah, Gresik yang
kebanyakan berprofesi sebagai petani tambak atau pengupas udang.
Setiap
hari tentu saja bukan sekilo-dua kilo udang yang akan dikupas untuk dijual ke
pabrik atau restoran, namun berton-ton udang untuk setiap harinya. Lantas
bagaimana dengan limbah kulit dan kepala udangnya? Apakah limbah itu dibuang
begitu saja dan menimbulkan bau busuk di sekitaran? Tentu saja tidak,
masyarakat yang pintar akan mengolah limbah tersebut menjadi olahan makanan yang
bernilai jual, sehingga dapat menjadi gudang pendapatannya, seperti petis udang
contohnya.
Petis
udang adalah bahan olahan masakan Indonesia yang dibuat menyerupai saus hitam
namun sangat kental dan manis, biasanya digunakan sebagai bahan sampingan atau
penyedap rasa dalam mengolah makanan tradisional Jawa Timur, seperti Lontong
balap, Rujak, Kupang Lontong, Tahu Campur, Tahu Tek, dan masih banyak lagi .
Olahan ini dibuat dari limbah kulit dan kepala udang yang telah melewati
penyaringan dan pengolahan yang panjang.
Laisatin,
salah satu pengusaha petis di Desa Sungonlegowo mengatakan, jika proses
pembuatan petis udang membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk satu Kuali besar
atau tiga belas kilo petis. Untuk mendapatkan petis dengan kualitas yang
premium juga memerlukan usaha keras serta kesabaran dalam menunggu api dan mengaduknya
hingga mengental.
“Membuat petis itu berat pol, Mbak. Sampean harus menggiling kepala dan kulit udang dulu. Kalo sudah, lanjut disaring sari-sarinya lalu direbus. Nah, merebusnya ini perlu waktu lama. Sampean harus sabar nunggu, pastiin apinya normal, kalau kayunya padam tambahin. Belum lagi ngaduknya yang makin lama makin alot. Kira-kira ngadon-nya ini dua harian lah, Mbak,” tutur Laisatin, pengusaha petis Desa Sungonlegowo, Jumat (12/11/2021).
Proses
pembuatan petis udang memang bukan hal yang mudah seperti yang dikatakan
Laisatin. Kita harus melalui tahapan yang panjang dan menguras keringat, setelah
mengental pun hasilnya tak banyak, untuk satu kuali besar seperti itu biasanya
hanya cukup memenuhi satu ember hitam yang dibandrol sekitar Rp.350.000.00.
Biasanya olahan petis ini akan dijual ke orang yang menjadi langganan dengan
jumlah besar, untuk petis yang dijual di toko-toko akan dikemas dengan mangkuk
plastik kecil dan dibandrol dengan harga Rp.10.000-an.
“Satu
wajan besar biasanya muat tiga belas kiloan lah, Mbak. Nah, tiga belas kilo ini
biasanya muat di satu ember hitam ini. Saya jualnya 1 kg nya Rp.25000, sampean
bisa kalikan saja. Petis saya biasanya diambil Juragan-nya mbak, itu
rutin. Biasanya sebulan sekali diambil, kadang kalau laris bisa dua kali juga
sebulan. Petis saya juga dititipkan di toko-toko, yang ditaro di gelas plastik
ini, saya jualnya Rp.10.000-an,” jelasnya.
Desa Sungonlegowo memang dikenal dengan olahan hasil perikanannya. Bukan hanya petis udang yang biasanya dijual ke luaran desa bahkan ke luar kota, namun juga olahan lainnya, seperti Kerupuk Udang, Kerupuk Lemi dari Udang, Panggang Bandeng, Sapitan Bandeng, dan masih banyak lagi. Olahan petis udang Desa Sungonlegowo merupakan salah satu olahan yang sangat banyak diminati oleh masyarakat, biasanya olahan ini diperjual-belikan di toko-toko oleh-oleh, banyak juga pesanan yang datang dari luar kota dengan jumlah besar. Pantas saja jika petis olahan desa Sungonlegowo diberi julukan petis udang super oleh banyak orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar